Upin Ipin dengan Budaya Indonesia .

“Hai!… Saya Upin, ini adik saya Ipin.”
“Ha…Betul…betul…betul. Ini kisah kami berdua.”
“Ih kau nih, kau dah lupa kah?
“Ih…ee..Hah…Ini kisah kami semua!

Itulah cuplikan dialog pembuka dari serial animasi Upin & Ipin Dan Kawan-Kawan yang menjadi salah satu favorit tontonan alternatif bagi anak-anak . Animasi yang diproduksi oleh negara Malaysia ini ditayangkan di salah satu TV swasta di Indonesia setiap hari pukul 16.30.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa film ini tidak nasionalis karena ketika bangsa Indonesia dilecehkan oleh Malaysia dan ketika Saykoji mengkritik Malaysia dengan lagu rapnya Copy My Style (Again), tapi anak-anak  justru nonton film produksi Malaysia. Pendapat ini tidaklah tepat. Seseorang menjadi tidak nasionalis jika ia hanya mengagungkan dan menggunakan produk negara lain daripada produk negaranya sendiri. OK, mari kita kembali membahas mengenai animasi Upin dan Ipin dengan Budaya Indonesia.

Apakah ada tertarik dalam cuplikan Upin dan Ipin yang sering d tayangkan di TV ? Bukan…bukan baju adat Tionghoa yang dikenakan oleh Puteri Mei Mei, coba perhatikan sekali lagi. Ya! Betul…betul…betul, senjata yang digunakan Upin dalam menghadapi Jarjit. Senjata yang tidak lain adalah berbentuk Kris atau Keris. Untuk lebih jelas mari kita lihat potongan gambar dari animasi tersebut.

Upin dan Keris

Sudah nampak jelas bahwa senjata yang digunakan Upin adalah berbentuk Kris/Keris. Jika kita amati di awal episode: Kembara ke Pulau Harta Karun (Bahagian 1), dikisahkan Upin dan Ipin sebagai laksamana laut yang ingin membebaskan Puteri Mei Mei, menggunakan perahu layar yang berpenampilan seperti bendera Malaysia. Mereka berdua juga mengenakan pakaian adat Malaysia. Dengan menampilkan Keris sebagai senjata Upin yang berbaju Malaysia dan yang dalam episode ini selalu mengenakan berbagai hal yang berkenaan dengan simbol-simbol negara Malaysia, maka secara langsung maupun tidak langsung ingin mengatakan bahwa Keris adalah bagian dari kebudayaan Malaysia.

Keris juga dikenal dalam kebudayaan Indonesia dan diangap sebagai salah satu hasil budaya Indonesia yang berasal dari Jawa dan telah mendapat pengakuan oleh badan PBB UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2005.

Lalu, apakah Malaysia berhak mengklaim Keris sebagai hasil budaya mereka? Mereka berhak mengklaim jika mereka memiliki kronologi dan bukti-bukti peninggalan sejarah yang lengkap mengenai Keris. Sampai saat ini saya belum menemukan bukti-bukti peninggalan sejarah Malaysia yang mengarah pada Keris adalah hasil budaya Malaysia. Bukti sejarah yang sangat jelas justru ada pada peninggalan sejarah Indonesia, yaitu pada relief dinding Candi Borobudur dan Prambanan.

Jika alasan pihak Malaysia adalah: Keris berasal dari budaya Melayu sehingga mereka berhak mengklaim sebagai budaya mereka, alasan ini adalah sangatlah naif dan dangkal. Jika dikatakan budaya Melayu, maka Melayu yang mana? Secara geografi, wilayah Malaysia dan Indonesia memang masuk dalam Kepulauan Melayu. Namun, meskipun sama secara geografi bukan berarti sama dalam semua hal. Dengan wujud kepulauan, maka sangatlah besar adanya perbedaan termasuk perbedaan tradisi dan budaya. Tradisi dan budaya di pulau Sumatera akan berbeda dengan di pulau Jawa dan Kalimantan (Borneo).

Jika pola pikir Malaysia yang naif dan dangkal ini dipergunakan, maka sebuah negara bisa mengklaim kebudayaan bangsa lain. Amerika bisa mengklam pakaian Sari dari India sebagai kebudayaan Amerika karena berpikir bahwa benua India berada pada satu bumi / dunia / earth yang sama dengan benua Amerika. Lucu bukan? Padahal di bumi ini banyak terdapat benua yang dipisahkan oleh lautan yang memungkinkan penciptaan tradisi dan budaya yang berbeda-beda.

Selama Malaysia tidak memiliki bukti sejarah yang valid maka mereka tidak bisa mengklaim Keris sebagai budaya mereka, mereka akan tetap dicap sebagai pencuri (maling) kebudayaan bangsa lain.

Terkait dengan Upin sebagai laksamana laut dengan pakaian khas dan senjata berupa Keris, kita diingatkan akan kisah legenda asal Malaysia yaitu legenda Hang Tuah dan Taming Sari. Hang Tuah adalah seorang laksmana laut yang kemudian dinobatkan sebagai pahlawan. Berdasarkan buku Sejarah Melayu/Salalatus Salatin oleh Tun Sri Lanang Tun Seri Lanang Tun Muhammad Ibni Tun Ahmad, Hang Tuah mendapatkan sebuah Keris dari Raja Majapahit. Keris tersebut sebenarnya adalah milik seorang prajurit tangguh Majapahit bernama Taming Sari yang telah tewas dikalahkan oleh Hang Tuah dalam sebuah pertarungan. Setelah pemilik awal tewas, Keris tersebut diserahkan oleh Raja Majapahit kepada Huang Tuah dan diberi nama sesuai dengan nama pemilik awal, yaitu Taming Sari. Konon Keris ini masih ada dan menjadi pusaka Sultan Azlan Shah, Sultan dari Perak, Malaysia. Sebuah pertanyaan muncul, apakah layak bangsa Malaysia terlalu berbangga hati terjadap suatu pusaka yang ternyata hasil pemberian dari penguasa bangsa lain dalam hal ini dari Raja Majapahit?

Dari kisah Hang Tuah, kita sudah bisa melihat bahwa Keris juga sudah dipergunakan pada masa Kerajaan Majapahit, bahkan digunakan sebagai hadiah atau cenderamata. Jadi adalah tidak heran jika kemudian Keris bisa ditemukan di negara Melayu lain. Tetapi bukan berarti negara Melayu yang lain merupakan pencipta awal dari Keris tersebut. Dan sekali lagi, untuk mengklaim Keris adalah satu hasil budaya negara tertentu perlu bukti-bukti sejarah yang valid dan kuat.

Terlepas dari kontroversi klaim Malaysia terhadap budaya Indonesia, animasi Upin & Ipin dan Kawan-Kawan perlu mendapatkan apresiasi dari sisi perfilman khususnya animasi untuk anak-anak. Selain animasi yang cukup baik, juga jalan cerita yang menarik dan mendidik dapat dijadikan tontonan alternatif bagi anak-anak.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: